
Hangeul, Abjad yang Diciptakan oleh Raja yang Penuh Kasih
Tahukah anda bahwa alfabet Korea diciptakan oleh seorang raja untuk rakyatnya? Raja tersebut adalah Raja Sejong dari Dinasti Joseon (1392-1910).
Pada masa itu, Raja Sejong merasa kasihan kepada rakyatnya yang menderita karena mereka mengalami buta huruf. Meskipun ada yang keberatan dari kelas bangsawan atas ide darinya, namun Raja Sejong memutuskan untuk membuat alfabet yang bisa dipelajari siapa saja dalam sehari. Kisah di balik pembuatan Hangeul oleh Raja Sejong ini sendiri dijelaskan ke dalam Piagam Hunminjeongum atau Hunminjeongum Haerye dalam bahasa Korea. Saat ini piagam tersebut dimasukkan ke dalam daftar Memory of the World Register oleh UNESCO pada tahun 1997. Buku penafsiran dari alfabet Korea Hangeul, yaitu Haerye, diterbitkan pada 1446, tiga tahun setelah penemuan Hangeul. Disana dijelaskan tentang bagaimana setiap huruf dirancang. Karena didesain dengan cara keilmuan, maka Hangeul dapat mereplikasi semua suara yang ada secara tertulis. Dan hal tersebut memungkinkan bagi seluruh masyarakat yang hidupnya menderita untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka secara tertulis.
Apa yang membuat Hangeul itu istimewa? Dr. Samuel Robert Ramsey, adalah seorang profesor Linguistik Asia Timur di Universitas Maryland, meneliti Hangeul selama lebih dari 50 tahun. Dalam banyak wawancara, dirinya memuji desain keilmuan dalam pembuatan Hangeul serta menjelaskan bahwa penemuan abjad Hangeul sebagai sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya serta perkembangan yang monumental dari alfabet Korea. Dia sangat menghargai alasan kemanusiaan yang tercermin dalam Hangeul. Gagasan Raja Sejong untuk mendidik semua orang, tanpa memandang jenis kelamin dan kelas sosial, dipandang berbahaya dan menyinggung bagi kelas yang berkuasa pada saat itu. Raja Sejong juga mengatakan bahwa Hangeul bukan hanya indikator tingkat budaya Korea, tetapi juga hadiah bagi dunia karena nilai dari Hangeul sendiri akan melampaui batas kebudayaan dari Korea. Huruf konsonan ‘ㄱ’ ‘ㄴ’ and ‘ㄷ’ meniru bentuk organ vokal, serta menunjukkan hubungan yang jelas antara suara dan tulisan. Di sisi lain, dalam bahasa Inggris, tidak ada petunjuk untuk menemukan hubungan dalam pengucapan antara konsonan ‘d’ dan ‘t.’ Dr. Werner Sasse, seorang profesor di Universitas Hamburg, memuji Raja Sejong atas sistematisasi fonologinya, yang dikatakan lima abad lebih awal dari negara Barat, dan menyebut Hangeul sebagai alfabet terbaik karena menggabungkan filsafat dan teori ilmiah. Sejarawan Inggris, John Man, menggambarkan Hangeul sebagai alfabet terbaik yang diimpikan oleh semua bahasa.